Penyakit Egg Drop Syndrome : Pengertian, Penyebab, Cara Penularan, Ciri-Ciri, dan Cara Pencegahan

penyakit egg drop syndrome

Usaha peternakan ayam petelur merupakan usaha yang memiliki potensi besar serta keuntungan yang tinggi. Hal ini dikarenakan permintaan telur setiap harinya cenderung stabil bahkan meningkat. Namun, perlu diketahui bahwa produksi ayam petelur dapat menurun. Salah satu penyebabnya yaitu timbulnya penyakit Egg Drop Syndrome pada ayam.

Lalu apa itu penyakit Egg Drop Syndrome? Apa penyebabnya? Bagaimana cara penularannya?

Tenang, semua pertanyaan di atas akan terjawab di artikel ini. Kali ini kami akan mengupas tuntas semua tentang penyakit Egg Drop Syndrome. Mulai dari pengertian, penyebab, cara penularan, ciri-ciri, hingga cara pencegahan penyakit Egg Drop Syndrome.

Anda jadi penasaran, kan? Langsung saja ini dia penjelasan selengkapnya!

Pengertian penyakit Egg Drop Syndrome

Penyakit Egg Drop Syndrome atau lebih dikenal dengan EDS adalah penyakit ternak unggas yang ditandai dengan penurunan produksi telur hingga 40%. Selain penurunan produksi telur, penyakit ini juga mengakibatkan turunnya kualitas telur yaitu bentuk telur tidak merata, kerabang telur tipis, kerabang telur lembek atau tidak membentuk kerabang.

Penyakit EDS pertama kali ditemukan oleh Van Eck di Belanda pada tahun 1976 sebagai penyebab menurunnya produksi telur. Semenjak saat itu, banyak laporan kasus penurunan produksi dan kualitas telur dari seluruh dunia, puncaknya pada tahun 1980 dan 1990-an. Di Indonesia sendiri, penyakit ini secara strategis merupakan penyakit menular yang harus diberantas.

Penyebab dan Cara Penularan 

Penyakit Egg Drop Syndrome disebabkan oleh adenovirus, anggota genus Atad-enovirus dan keluarga Adenoviridae. Virus ini juga dikenal sebagai virus adenovirus 1 (DAdV-1), sindrom penurunan telur, EDS 76, dan 127 adenovirus.

Penyakit ini dapat menular baik secara vertikal maupun horizontal. Penularan secara vertikal yaitu penyakit ini ditularkan dari induk yang terinfeksi EDS, sehingga menghasilkan telur yang membawa virus, sementara induk ayam yang terinfeksi terlihat sehat. Hal ini harus diwaspadai peternak, karena selama DOC tumbuh virus EDS tetap ada di dalam tubuhnya dan seolah-oleh tertidur. Pada saat ayam mulai memproduksi telur, virus ini mulai aktif serta berkembang biak dan kemudian penyakitnya menyebar ke ayam lain yang berada dalam satu kandang.

Sedangkan penularan secara horizontal yaitu dapat disebarkan melalui sekresi trakea. Penularan dapat terjadi karena kontaminasi melalui makanan, minuman, dan semen. Selain itu, penyebaran agen penyakit ini dapat terjadi dari satu peternakan ke peternakan yang lainnya. Penularan dapat berasal dari ayam yang sakit dan ayam yang sehat menjadi carrier. Penularan tersebut dapat melalui bulu-bulu atau sayap, muntahan, kotoran atau feses, debu, peralatan dan sarana, lantai kandang, tempat telur, dan bangkai yang dibuang sembarangan.

Ciri-ciri ayam terserang penyakit Egg Drop Syndrome

Penyakit ini sering terjadi pada ayam petelur usia 25 – 26 minggu. Namun, pada umumnya ciri-ciri penyakit EDS tampak terlihat pada ayam yang berusia 25 – 35 minggu. Berikut adalah ciri-ciri ayam yang terserang penyakit EDS : 

  • Produksi dan kualitas telur menurun.
  • Ayam terlihat lebih lesu.
  • Menurunnya nafsu makan.
  • Jengger dan pial berwarna pucat.
  • Terkadang disertai diare ringan.
  • Hilangnya warna kulit telur.
  • Kulit telur tipis, lunak, dan bahkan tanpa kulit telur.
  • Ukuran telur menyusut atau mengecil. 

Cara Pencegahan

Penyakit EDS dapat dicegah melalui beberapa cara berikut :

1. Melakukan Vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap serangan virus. Vaksinasi dapat dilakukan pada ayam yang menjelang produksi, yaitu 3 – 4 minggu sebelum bertelur. Bentuk vaksin EDS yang tersedia yaitu bentuk inaktif. Vaksin inaktif merupakan vaksin yang didalamnya berupa agen infeksi yang telah dimatikan, tetapi masih mampu menstimulasi pembentuk antibodi, sehingga pembentukan titer antibodi protektif akan memerlukan waktu yang cukup lama. Maka dari itu, kasus EDS relatif jarang dilakukan vaksinasi darurat (vaksinasi ketika ayam sudah terinfeksi).

2. Pemberian vitamin dan antibiotik

Cara pencegahan penyakit EDS berikutnya adalah pemberian vitamin dan antibiotik. Pemberian vitamin dapat dilakukan dengan mencampurkannya ke dalam ransum atau air minum ternak. Tujuan dari penambahan vitamin yaitu untuk menjaga imunitas atau kekebalan tubuh ternak, sehingga virus EDS tidak mudah masuk ke dalam tubuh ternak. Jika ditemukan adanya infeksi sekunder bakteri, maka perlu pemberian antibiotik. Selain itu, kandungan nutrisi pada pakan harus sesuai dengan kebutuhan ternak.

3. Melakukan Biosecurity

Biosecurity merupakan semua tindakan yang bertujuan sebagai pertahanan pertama dalam pengendalian wabah dan mencegah semua kemungkinan penularan untuk meminimalisir penyebaran agen infeksi. Penerapan biosecurity pada usaha peternakan ayam petelur meliputi : 

  • Adanya kontrol pergerakan ternak ayam, manusia, peralatan, dan alat transportasi baik kendaran antara dan ke ke dalam area peternakan.
  • Melakukan pemisahan ternak ayam dari spesies unggas lain dan spesies burung non-unggas termasuk burung liar, hewan pengerat dan hewan lainnya serta serangga yang dapat menularkan penyakit.
  • Meminimalisir penyebaran secara aerosol melalui isolasi geografis.
  • Melakukan praktek kebersihan dan mengimplementasikan prosedur desinfeksi yang benar untuk menurunkan tingkat infeksi.
  • Memberikan pengobatan yang tepat.

Di artikel ini kami sudah mengupas tuntas semua tentang penyakit Egg Drop Syndrome. Mulai dari pengertian penyakit Egg Drop Syndrome, penyebab, cara penularan, ciri-ciri, hingga cara pencegahannya. Intinya Egg Drop Syndrome adalah penyakit pada ayam petelur yang harus diwaspadai peternak.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda. Pantau terus blog Ganeeta Formula Nusantara agar anda tidak ketinggalan artikel yang menarik dan edukatif lainnya seputar peternakan unggas. Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya!

Komentar dinonaktifkan